sc;  Theglobal review.com
gambar hanya pemanis :v



NAMA JURNAL : JURNAL ILMU SOSIAL DAN HUMANIAORA / NASIONALISME ASIA TIMUR: SUATU          PERBANDINGAN JEPANG, CINA, DAN KOREA

PENULIS        : MUDJI HARTONO (Dosen Prodi Ilmu Sejarah Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY)

REVIEWER      : MOH ASRUL WAHID (Mahasiswa Jurusan Sejarah FIB UNEJ)

NIM                   : 180110301089

TANGGAL        : 17 OKTOBER 2019


A.    RINGKASAN ABSTRAK

        Kebangkitan nasional di Asia Timur telah muncul pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20 sejalan dengan semakin intensifnya usaha penguasaan wilayah oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain. Walaupun sama-sama bangsa Asia Timur, terdapat perbedaan   yang mendasari terbentuknya nasionalisme antara Jepang, Cina, dan Korea.

Pebentukan nasionalisme terjadi dengan adanya gabungan dua unsur antara keterikatan enis dan loyalitas politik. Di Jepang kedua unsur itu telah menyatu dengan masaraka Jepang.sedangkan,  di Cina dan Korea pembentukan nasionalisme lebih didasarkan pada loyalitas politik. Untuk itu, dalam rangka melihat identitas masing-masing negara tersebut terkait dengan munculnya nasionalisme, artikel ini mencoba mengkajinya.

B.     RINGKASAN PEDAHULUAN

    Pada umumnya nasionalisme bermakna melahirkan perasaan cinta tanah air dalam upaya membentuk sebuah negara bangsa. Kata nasionalisme berhubungan dengan dua hal, yaitu kewargaan negara dan semangat patriotik. Kewargaan negara menuntut soal politik dan kedaulatan kemerdekaan. Semangat patriotik menuntut soal cinta tanah air. Dengan kata lain, nasionalisme adalah sentimen kesetiaan atau simpati yang mengikat suatu bangsa berdasar institusi dan budaya yang sama untuk mewujudkan persatuan dan mencapai terbentuknya negara bangsa (Nation State) yang merdeka.

Pembentukan nasionalisme di Asia sering dihadapkan dengan kolonialisme Barat atau merupakan reaksi atas kehadiran kolonialisme Barat. Namun kini terdapat perkembangan lain, pembentukan nasionalisme di kawasan Asia Timur terjadi beberapa kali. Sebelum tahun 1945 hanya Cina yang dijajah oleh bangsa Barat, itupun tidak seluruh wilayah didudukinya, maka bentuk penjajahan itu disebut semi- kolonial. Jepang tidak pernah dijajah bangsa Barat tetapi ancaman penjajahan bangsa Barat yang menimbulkan nasionalisme. Korea beberapa kali diduduki oleh Cina, dan yang terakhir dijajah Jepang (1910-1945). Nasionalisme di Korea muncul karena ingin melepaskan diri dari penjajahan Jepang. Setelah tahun 1945 Jepang di bawah pendudukan Amerika Serikat namun hanya menimbulkan kekhawatiran sekejap, dan tidak menimbulkan gerakan anti Amerika. Begitu pula Korea sebelum perang saudara, meskipun berada di bawah tentara pendudukan, yaitu AS di Korea Selatan dan Uni Soviet di Korea Utara, tetapi gerakan anti asing tidak muncul dengan serius.
C.    RINGKASAN  PEMBAHASAN
a.      Nasionalisme Jepang
Jepang agak berbeda dengan di Cina dan Korea. Jepang tidak pernah dijajah oleh bangsa asing. Jepang merupakan negara merdeka dan berdaulat. Nasionalisme lahir dengan tujuan untuk mengekalkan kedaulatannya dan berupaya membendung serta mengelakkan diri dari ancaman kolonialisme Barat.
fondasi nasionalisme Jepang  telah terbentuk sejak Politik Isolasi (sakoku) diterapkan Jepang pada abad ke-18. Rupanya kokka shugi, artinya ‘negara-keluarga-isme’, adalah kata yang pantas digunakan pada saat itu. Ketika itu Jepang dikuasai oleh keluarga Tokugawa, dan berupaya mengamankan Jepang dari ancaman penjajahan bangsa Barat, terutama Portugis, yakni dengan cara menerapkan Politik Isolasi. Dalam isolasi itu berlangsung proses pembentukan jiwa ke-Jepang-an pada bangsa Jepang. Selanjutnya, kedatangan C. Perry merupakan ancaman penjajahan Barat yang kedua kalinya. Oleh karena Politik Isolasi dipandang gagal dan sudah tidak sesuai dengan perkembangan dunia maka harus digantikan dengan modernisasi.
Modernisasi digunakan guna menial penaruh barat, dan ketika itu pula semangat nasionalisme ditiupkan lebih kencang. Gerakan nasional selama satu dasawarsa pertama Restorasi Meiji menjadi tonggak yang sangat penting bagi Jepang. Kaum pembaharu melakukan restorasi yang diawali oleh suatu “Revolution from Above”. Mereka sebagai pelopor pergerakan nasional, mereka berasal dari golongan samurai yang termasuk klas atas, dan mereka melakukan perubahan secara cepat yang diarahkan dari atas ke bawah.2 Dengan merujuk pada tiga slogan nasional, yaitu Isshin (kembali ke masa silam), Sonno-joi (hormati Kaisar dan usir orang-orang biadab) dan Fukoku Kyohei (militer kuat, negara sejahtera), maka akan tampak jelas bahwa pembentukan nasionalisme didasarkan pada unsur-unsur etnik, budaya dan politik.
Semangat nasionalisme Jepang pada tahun 1930-an dan 1940-an menjadi sangat tinggi, ekstrem dan agresif atau ultranasionalisme. Kaum ultrnasionalis mempunyai cita-cita meluaskan wilayah kekuasaan kekaisaran Jepang. Cita-cita Jepang membentuk Asia Timur Raya mengakibatkan keterlibatannya dalam Perang Dunia II dan sekaligus kehancurannya. Bangsa Jepang memiliki dasar yang tidak ada bandingannya dalam berkorban untuk kepentingan nasional.5 Orang Jepang memiliki perasaan “ketersendirian” yang kuat sekali, mereka sadar betul bahwa dirinya sebagai orang Jepang, sedangkan kesan pertama terhadap orang lain adalah “bukan sebagai orang Jepang”.
Sangat jelas bahwa nasionalisme Jepang dibentuk berdasarkan ikatan etnis, budaya dan tradisi negara. Jepang beruntung karena memiliki alat pemersatu bangsa, yaitu kaisar, yang masih tetap efektif pada masa modern. Bangsa Jepang memiliki ketaatan tradisional kepada atasan, terutama kepada kaisar
b.      NASIONALISME CHINA
Di Cina, dapat dikatakan bahwa kemunculan nasionalisme modern tidak dapat menegasikan adanya peranan dinasti Cina yang murni (Han), yaitu dinasti Ming yang digulingkan oleh bangsa Manchu pada tahun 1644. Selain itu juga didorong oleh adanya faktor-faktor penindasan yang dilakukan oleh bangsa Barat terhadap rakyat setempat melalui eksploatasi ekonomi dan buruh, perampasan hak-hak rakyat (pemilikan tanah), penerapan undang-undang Barat dan penerapan cukai yang tidak dipahami masyarakat.
Awal penjajahan bangsa Barat di Cina ditandai dengan peristiwa Perang Candu (1839-1840), peristiwa itu memang tidak serta-merta melahirkan nasionalisme Cina. Namun, perjanjian-perjanjian sebagai akibat Perang Candu itulah yang merugikan Cina dan menyebabkan munculnya semangat nasionalisme. Setelah Perang Candu selesai bermunculan gerakan-gerakan anti bangsa Barat yang dilancarkan oleh kaum loyalis Ming, antara lain : Insiden Tientsin (1870), Peristiwa Margary (1875) dan Gerakan Boxer (1899). Di samping muncul perasaan anti imperalisme Barat, muncul pula perasaan anti bangsa Manchu seperti Pemberontakan Taiping dan Gerakan Serikat Rahasia ( Teratai Putih, Langit dan Bumi, Pedang Besar dan kelompok sosial yang lain ). Pemerintah Ch’ing yang memerintah Cina bukanlah dinasti asli Cina tetapi berasal dari luar Cina, karena itu dipandang sebagai penjajah. Walaupun pemerintah Ch’ing mengadopsi budaya Cina, tetapi diskriminasi tetap dilakukan terhadap bangsa Cina.
Nasionalisme Cina tidak sekedar anti bangsa asing (Barat), melainkan juga semua hal yang berbau Barat, seperti budaya Barat, agama Barat, IPTEK Barat, dan produk-produk Barat. Dengan kata lain perasaan kulturalisme9 muncul dan merasuk dalam hati bangsa Cina di tengah-tengah perjalanan pergerakan nasional. Bangsa Cina memiliki rasa percaya diri dan kebanggaan pada budayanya begitu kuat, bahwa budaya Cina lebih unggul dibandingkan dengan budaya lain. Negara Cina dipandang sebagai pusat peradaban, hal ini dapat diketahui dengan adanya konsep “The Middle Kingdom” 10, negara-negara lain dianggap belum maju dan bangsa-bangsa lain dianggap masih bar-bar, termasuk bangsa Barat. Masuknya budaya Barat dianggap akan merusak susunan kosmos Cina, sehingga menyebabkan timbulnya pertentangan dalam masyarakat.
Semangat kulturalisme Cina mulai memudar pada masa Revolusi Nasional 1911, Dr. Sun Yat Sen telah menerima pengaruh budaya Barat, terutama fahamfaham Barat tentang nasionalisme, demokrasi dan sosialisme. Hal ini tidak mengherankan karena kaum pergerakan nasional dimotori oleh golongan terpelajar. Bagaimanapun juga pembentukan nasionalisme oleh KMT telah berhasil dan dilanjutkan dengan pembentukan nation state Cina, yakni Republik Nasionalis Cina. Revolusi 1911 menjadi pendorong semangat menentang Barat dan Ch’ing serta mendirikan negara. Republik yang masih muda ini ditempa oleh ujian-ujian berat yang mengarah pada disintegrasi nasional. Pertama, perpecahan di kalangan militer Peiyang di utara (1921-1927), yaitu : kelompok Anhwei (pimpinan Jenderal Tuan chi-jui), kelompok Chihli (Jenderal Feng Kuochang) dan kelompok Fengtian (Jenderal Chang Tsao Lin). Di selatan juga terdapat kelompok Yunnan dan kelompok Kwangsi, masing-masing dipimpin oleh Jenderal Tang Jiyao dan Lung Jung-ting. Kaum sparatis itu ingin mendirikan negara dalam negara. Integrasi nasional terjadi setelah Peking dikuasai (1928) oleh pasukan Chiang Kai-shek dari kubu nasionalis. Kedua, pertentangan antara golongan nasionalis dan komunis yang berakibat terbentuknya dua negara berdaulat, yaitu RRC dan Taiwan.
Pembentukan nasionalisme dilakukan juga oleh kelompok di bawah pimpinan Mao Zedong, yakni dengan menggunakan ajaran Marxisme-Leninisme yang kemudian dimodifikasi menjadi ajaran Maoisme. Meskipun demikian ajaran Maoisme belum dapat diterima oleh seluruh bangsa Cina. Bahkan menimbulkan pertentangan dan perpecahan bangsa yang mengakibatkan terbentuknya “Dua Cina”, yaitu Cina Daratan (RRC) dan Cina Kepulauan (Taiwan). Keduanya memiliki dasar ideologi politik yang berbeda, yaitu komunis dan nasionalis. Masing-masing telah menemukan bentuk nasionalismenya, yaitu nasionalisme Cina dan nasionalisme Taiwan. Kesadaran kebangsaan masing-masing pihak itu lahir dilandasi oleh nasionalisme, dan ini merupakan manifestasi dari pertentangan dan konflik kepentingan daripada sekedar hasil solidaritas di dalam atau antarkelompok. Memang, kedua perbedaan ideologi itu pernah bersatu dalam menentang pendudukan Jepang (1937), tetapi hanya berusia pendek dan berpecah lagi hingga kini.
c.        NASIONALISME KOREA
Korea merupakan negara yang terus-menerus diperebutkan oleh Cina, Jepang dan Rusia, karena memiliki letak yang strategis. Perebutan wilayah itu berhenti setelah Jepang berhasil menguasai Korea (1910-1945). Ketika itu pula Kerajaan Choson dan kedaulatan bangsa Korea berakhir. Selama 35 tahun Korea menjadi jajahan Jepang, maka pergerakan nasional muncul untuk mengusir kekuatan imperial Jepang. Kaum nasionalis baik yang ada di luar negeri maupun yang tinggal di dalam negeri banyak dipengaruhi oleh anjuran Woodrow Wilson bahwa setiap bangsa berhak “menentukan nasibnya sendiri”.
   Penjajahan Jepang itu segera mendapatkan reaksi dari rakyat Korea, seperti pembentukan pasukan kemerdekaan, Chamuibu, Jonguibu dan Sinminbu. 11 Pergerakan nasional meletus pada 1 Maret 1919 bertepatan dengan peringatan hari wafatnya Raja Kojong. Ketika itu pula dibacakan teks proklamasi kemerdekaan Korea di taman Pagoda. Tradisi negara menjadi elemen untuk menyatukan rakyat, dan karena itu mendasari munculnya nasionalisme. Demonstrasi itu mendapat reaksi keras dari Jepang, tetapi kaum nasionalis tidak menyurutkan gerakannya. Para aktivis di luar negeri yang tergabung dalam Asosiasi Nasionalis Korea di Hawai dan Asosiasi Pemuda Korea di Shanghai, melakukan upaya mencari pengaruh bagi kemerdekaan Korea di luar negeri melalui Perjanjian Versailles. Mereka juga membentuk pemerintahan-pemerintahan di pengasingan, sedangkan Gerakan Pemuda Nasionalis di Korea menghimpun dana untuk kepentingan perjuangan.
Antara tahun 1926 – 1945 gerakan anti Jepang sering kali dilakukan secara fisik oleh pemuda, petani, buruh, dan gerakan tentara revolusioner rakyat Korea. Jepang mempraktekkan devide et impera, karena itu kaum nasionalis mendirikan wadah organisasi yang bernama Sinkanhoe (1927), tujuannya menyatukan kaum pergerakan tanpa membedakan ideologi. Gerakan revolusioner yang berdasarkan ideologi komunisme dilancarkan oleh Kim Il Sung          . Kim Il Sung. Gerakan itu dengan cepat meluas dan menjadi gerakan massa pemuda, mahasiswa, buruh dan tani. Di bawah koordinasi pemimpin komunis itu kemudian pada tahun 1932 didirikan Partai Komunis, Liga Pemuda Komunis, organisasi-organisasi massa, dan tentara revolusioner rakyat Korea (1934). Tiga tahun kemudian kekuatan revolusioner ini telah berani menyerang benteng pertahanan tentara Jepang (Bonchonbo), dan kemudian bertepatan dengan kekalahan Jepang dalam PD II pasukan revolusioner bekerja sama dengan tentara merah Uni Soviet untuk kemerdekaan Korea. Sementara itu tentara pemerintahan sementara Republik Korea telah bersiap-siap melawan tentara Jepang di Semenanjung Korea menyusul pengumuman Jepang menyerah tanpa syarat.
Bangsa Korea gagal memperoleh kemerdekaan pada 15 Agustus 1945, karena Sekutu sebagai pemenang perang membagi Korea menjadi dua, yakni Korea Utara di bawah kekuasaan Uni Soviet dan Korea Selatan dikuasai Amerika Serikat. Pada tahun 1948 dua negara baru didirikan, yaitu Republik Korea di selatan dan Republik Demokrasi Rakyat Korea di utara. Pemerintahan di Korea Utara dibentuk berdasarkan sistem komunisme, sedangkan Republik Korea berdasarkan demokrasi dan kapitalisme. Perbedaan ideologi ini merupakan salah satu penyebab timbulnya Perang Korea, dan hambatan dalam upaya reunifikasi Korea hingga saat ini. Sama halnya dengan masalah Taiwan, konflik di Korea tidak berdasarkan perbedaan etnis atau ras tetapi masing-masing loyalitas politik. Sehingga kedua negra tesebut membentuk nasionalismenya masing-masing dengan didasarkan ada loyalitas politik.
D.    KESIMPULAN
Pembentukan nasionalisme mengalami perkembangan sesuai dengan zamannya, termasuk di kawasan Asia Timur. Pada pertengahan abad ke-20 pembentukan nasionalisme yang didasarkan pada gabungan unsur etnisitas dan loyalitas politik masih terlihat dengan jelas di kawasan Asia Timur. Akan tetapi menjelang akhir abad ke-20 kedua unsur itu hanya terdapat di Jepang, sedangkan di Cina dan Korea hanya aspek loyalitas politik yang digunakan untuk membentuk nasionalisme. Di Jepang, kedua unsur itu telah menyatu pada diri orang Jepang, sehingga apa yang dilakukan oleh orang Jepang yang berorientasi internasionalisme tidak melenyapkan identitas nasional. Mereka sadar betul bahwa dirinya adalah orang Jepang. Pemerintah Jepang sangat memperhatikan pembentukan kepribadian bangsa terutama pada generasi penerus. Hal ini terlihat dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah, bahwa pelajaran tentang cinta tanah air hingga kini dimasukkan di dalam kurikulum. Sementara itu di Cina dan Korea pada masa yang sama juga berlangsung proses pembentukan nasionalisme dengan menggunakan unsur etnisitas dan loyalitas politik. Namun setelah terbentuknya “dua Cina” dan “dua Korea”, maka muncul upaya untuk membentuk kembali “satu” Cina dan “satu” Korea. Dalam rangka reunifikasi itu hingga kini masih terdapat kesulitan untuk mencari bentuk baru nasionalisme yang dapat diterima oleh bangsa-bangsa yang bersengketa. Kedua unsur tersebut tidak dapat digunakan sebagai landasan untuk menyatukan bangsa Cina dengan Taiwan, dan Korea Selatan dengan Korea Utara. Dengan demikian hingga saat ini pembentukan “nasionalisme Cina” dan “nasionalisme Korea” belum dapat terwujud.
E.   REVIEW
a.      kelebihan
Pembahsan mengenai perbandingan nasionalisme ditiga negara di Asia  timur; Jepang, Cina dan Korea, dipaparkan secara jelas. Pembaca dapat mengetahui mengenai latar belakang  dan faktor munculnya serta bentuk  dasar nasionalisme yang dianut dari ketiga negara trsebut.
Latar waktu yang berorientasi kemasa lampau dan tidak maju mundur membuat jurnal ini konsisten dalam pembahasan terbentuknya nasionalisme, sehingga memudahkan pembaca dalam memahami inti sejarah pembentukan serta pembahasan utama mengenai  nasionalisme di tiga negara tersebut.  

b.      Kekurangan
1.      Masih banyaknya penggunaan istilah bahasa asing yang sulit untuk dipahami oleh pembaca awam.
2. pembahasan menganai terbetuk nasionalisme cina lebih banyak pada faktor perbedaan  paham antara komunisme dan sosialisme dan pasca imperialis barat.   nasionalisme cina sudah muncul pada masa pemerintahan dinasti Manchu 1644 dan mencapai puncaknya setelah jatuhnya dinasti Manchu pada tahun 1911 M. Dinasti manchu merupakan pemerintah asing bukan merupakan bangsa asli Cina, yang memerintah cina dengan sewenang-wenang. melihat penyelewengan tersebut rakyat cina asli bergerak untuk melakukan perlawanan dan membebaskan diri dari dinasti asing tersebut (Agung.S, 2012;73)


terimaksih sudah membaca sliahkan berikan masukan di kolom komentar yaaaa :v
........

Oh ya untuk baca jurnalnya bisa klik di sini yaa :v