![]() |
| sc; Theglobal review.com gambar hanya pemanis :v |
NAMA JURNAL : JURNAL ILMU SOSIAL DAN HUMANIAORA / NASIONALISME ASIA TIMUR: SUATU PERBANDINGAN JEPANG, CINA, DAN KOREA
PENULIS : MUDJI HARTONO (Dosen Prodi Ilmu
Sejarah Jurusan Pendidikan Sejarah FISE UNY)
REVIEWER : MOH ASRUL WAHID (Mahasiswa Jurusan Sejarah FIB UNEJ)
NIM : 180110301089
TANGGAL : 17 OKTOBER 2019
A.
RINGKASAN
ABSTRAK
Kebangkitan nasional di Asia Timur telah
muncul pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20 sejalan dengan semakin
intensifnya usaha penguasaan wilayah oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain.
Walaupun sama-sama bangsa Asia Timur, terdapat perbedaan yang
mendasari terbentuknya nasionalisme antara Jepang, Cina, dan Korea.
Pebentukan nasionalisme terjadi dengan
adanya gabungan dua unsur antara keterikatan enis dan loyalitas politik. Di Jepang
kedua unsur itu telah menyatu dengan masaraka Jepang.sedangkan, di Cina dan Korea pembentukan nasionalisme
lebih didasarkan pada loyalitas politik. Untuk itu, dalam rangka melihat
identitas masing-masing negara tersebut terkait dengan munculnya nasionalisme,
artikel ini mencoba mengkajinya.
B.
RINGKASAN
PEDAHULUAN
Pada umumnya nasionalisme bermakna
melahirkan perasaan cinta tanah air dalam upaya membentuk sebuah negara bangsa.
Kata nasionalisme berhubungan dengan dua hal, yaitu kewargaan negara dan
semangat patriotik. Kewargaan negara menuntut soal politik dan kedaulatan
kemerdekaan. Semangat patriotik menuntut soal cinta tanah air. Dengan kata
lain, nasionalisme adalah sentimen kesetiaan atau simpati yang mengikat suatu
bangsa berdasar institusi dan budaya yang sama untuk mewujudkan persatuan dan
mencapai terbentuknya negara bangsa (Nation State) yang merdeka.
Pembentukan nasionalisme di Asia sering
dihadapkan dengan kolonialisme Barat atau merupakan reaksi atas kehadiran
kolonialisme Barat. Namun kini terdapat perkembangan lain, pembentukan
nasionalisme di kawasan Asia Timur terjadi beberapa kali. Sebelum tahun 1945
hanya Cina yang dijajah oleh bangsa Barat, itupun tidak seluruh wilayah
didudukinya, maka bentuk penjajahan itu disebut semi- kolonial. Jepang tidak
pernah dijajah bangsa Barat tetapi ancaman penjajahan bangsa Barat yang
menimbulkan nasionalisme. Korea beberapa kali diduduki oleh Cina, dan yang
terakhir dijajah Jepang (1910-1945). Nasionalisme di Korea muncul karena ingin
melepaskan diri dari penjajahan Jepang. Setelah tahun 1945 Jepang di bawah
pendudukan Amerika Serikat namun hanya menimbulkan kekhawatiran sekejap, dan
tidak menimbulkan gerakan anti Amerika. Begitu pula Korea sebelum perang
saudara, meskipun berada di bawah tentara pendudukan, yaitu AS di Korea Selatan
dan Uni Soviet di Korea Utara, tetapi gerakan anti asing tidak muncul dengan
serius.
C.
RINGKASAN
PEMBAHASAN
a.
Nasionalisme
Jepang
Jepang agak berbeda dengan di Cina dan
Korea. Jepang tidak pernah dijajah oleh bangsa asing. Jepang merupakan negara
merdeka dan berdaulat. Nasionalisme lahir dengan tujuan untuk mengekalkan
kedaulatannya dan berupaya membendung serta mengelakkan diri dari ancaman kolonialisme
Barat.
fondasi nasionalisme Jepang telah terbentuk sejak Politik Isolasi (sakoku)
diterapkan Jepang pada abad ke-18. Rupanya kokka shugi, artinya
‘negara-keluarga-isme’, adalah kata yang pantas digunakan pada saat itu. Ketika
itu Jepang dikuasai oleh keluarga Tokugawa, dan berupaya mengamankan Jepang
dari ancaman penjajahan bangsa Barat, terutama Portugis, yakni dengan cara
menerapkan Politik Isolasi. Dalam isolasi itu berlangsung proses pembentukan
jiwa ke-Jepang-an pada bangsa Jepang. Selanjutnya, kedatangan C. Perry
merupakan ancaman penjajahan Barat yang kedua kalinya. Oleh karena Politik
Isolasi dipandang gagal dan sudah tidak sesuai dengan perkembangan dunia maka
harus digantikan dengan modernisasi.
Modernisasi digunakan guna menial
penaruh barat, dan ketika itu pula semangat nasionalisme ditiupkan lebih
kencang. Gerakan nasional selama satu dasawarsa pertama Restorasi Meiji menjadi
tonggak yang sangat penting bagi Jepang. Kaum pembaharu melakukan restorasi
yang diawali oleh suatu “Revolution from Above”. Mereka sebagai pelopor
pergerakan nasional, mereka berasal dari golongan samurai yang termasuk klas
atas, dan mereka melakukan perubahan secara cepat yang diarahkan dari atas ke
bawah.2 Dengan merujuk pada tiga slogan nasional, yaitu Isshin (kembali ke masa
silam), Sonno-joi (hormati Kaisar dan usir orang-orang biadab) dan Fukoku
Kyohei (militer kuat, negara sejahtera), maka akan tampak jelas bahwa
pembentukan nasionalisme didasarkan pada unsur-unsur etnik, budaya dan politik.
Semangat nasionalisme Jepang pada tahun
1930-an dan 1940-an menjadi sangat tinggi, ekstrem dan agresif atau
ultranasionalisme. Kaum ultrnasionalis mempunyai cita-cita meluaskan wilayah
kekuasaan kekaisaran Jepang. Cita-cita Jepang membentuk Asia Timur Raya
mengakibatkan keterlibatannya dalam Perang Dunia II dan sekaligus kehancurannya.
Bangsa Jepang memiliki dasar yang tidak ada bandingannya dalam berkorban untuk
kepentingan nasional.5 Orang Jepang memiliki perasaan “ketersendirian” yang
kuat sekali, mereka sadar betul bahwa dirinya sebagai orang Jepang, sedangkan
kesan pertama terhadap orang lain adalah “bukan sebagai orang Jepang”.
Sangat jelas bahwa nasionalisme Jepang
dibentuk berdasarkan ikatan etnis, budaya dan tradisi negara. Jepang beruntung
karena memiliki alat pemersatu bangsa, yaitu kaisar, yang masih tetap efektif
pada masa modern. Bangsa Jepang memiliki ketaatan tradisional kepada atasan,
terutama kepada kaisar
b.
NASIONALISME
CHINA
Di Cina, dapat dikatakan bahwa
kemunculan nasionalisme modern tidak dapat menegasikan adanya peranan dinasti
Cina yang murni (Han), yaitu dinasti Ming yang digulingkan oleh bangsa Manchu
pada tahun 1644. Selain itu juga didorong oleh adanya faktor-faktor penindasan
yang dilakukan oleh bangsa Barat terhadap rakyat setempat melalui eksploatasi
ekonomi dan buruh, perampasan hak-hak rakyat (pemilikan tanah), penerapan
undang-undang Barat dan penerapan cukai yang tidak dipahami masyarakat.
Awal penjajahan bangsa Barat di Cina
ditandai dengan peristiwa Perang Candu (1839-1840), peristiwa itu memang tidak
serta-merta melahirkan nasionalisme Cina. Namun, perjanjian-perjanjian sebagai
akibat Perang Candu itulah yang merugikan Cina dan menyebabkan munculnya semangat
nasionalisme. Setelah Perang Candu selesai bermunculan gerakan-gerakan anti bangsa
Barat yang dilancarkan oleh kaum loyalis Ming, antara lain : Insiden Tientsin
(1870), Peristiwa Margary (1875) dan Gerakan Boxer (1899). Di samping muncul
perasaan anti imperalisme Barat, muncul pula perasaan anti bangsa Manchu
seperti Pemberontakan Taiping dan Gerakan Serikat Rahasia ( Teratai Putih,
Langit dan Bumi, Pedang Besar dan kelompok sosial yang lain ). Pemerintah
Ch’ing yang memerintah Cina bukanlah dinasti asli Cina tetapi berasal dari luar
Cina, karena itu dipandang sebagai penjajah. Walaupun pemerintah Ch’ing
mengadopsi budaya Cina, tetapi diskriminasi tetap dilakukan terhadap bangsa
Cina.
Nasionalisme Cina tidak sekedar anti
bangsa asing (Barat), melainkan juga semua hal yang berbau Barat, seperti
budaya Barat, agama Barat, IPTEK Barat, dan produk-produk Barat. Dengan kata
lain perasaan kulturalisme9 muncul dan merasuk dalam hati bangsa Cina di
tengah-tengah perjalanan pergerakan nasional. Bangsa Cina memiliki rasa percaya
diri dan kebanggaan pada budayanya begitu kuat, bahwa budaya Cina lebih unggul
dibandingkan dengan budaya lain. Negara Cina dipandang sebagai pusat peradaban,
hal ini dapat diketahui dengan adanya konsep “The Middle Kingdom” 10, negara-negara
lain dianggap belum maju dan bangsa-bangsa lain dianggap masih bar-bar,
termasuk bangsa Barat. Masuknya budaya Barat dianggap akan merusak susunan
kosmos Cina, sehingga menyebabkan timbulnya pertentangan dalam masyarakat.
Semangat kulturalisme Cina mulai memudar
pada masa Revolusi Nasional 1911, Dr. Sun Yat Sen telah menerima pengaruh
budaya Barat, terutama fahamfaham Barat tentang nasionalisme, demokrasi dan
sosialisme. Hal ini tidak mengherankan karena kaum pergerakan nasional dimotori
oleh golongan terpelajar. Bagaimanapun juga pembentukan nasionalisme oleh KMT
telah berhasil dan dilanjutkan dengan pembentukan nation state Cina, yakni
Republik Nasionalis Cina. Revolusi 1911 menjadi pendorong semangat menentang
Barat dan Ch’ing serta mendirikan negara. Republik yang masih muda ini ditempa
oleh ujian-ujian berat yang mengarah pada disintegrasi nasional. Pertama,
perpecahan di kalangan militer Peiyang di utara (1921-1927), yaitu : kelompok
Anhwei (pimpinan Jenderal Tuan chi-jui), kelompok Chihli (Jenderal Feng
Kuochang) dan kelompok Fengtian (Jenderal Chang Tsao Lin). Di selatan juga
terdapat kelompok Yunnan dan kelompok Kwangsi, masing-masing dipimpin oleh
Jenderal Tang Jiyao dan Lung Jung-ting. Kaum sparatis itu ingin mendirikan
negara dalam negara. Integrasi nasional terjadi setelah Peking dikuasai (1928)
oleh pasukan Chiang Kai-shek dari kubu nasionalis. Kedua, pertentangan antara
golongan nasionalis dan komunis yang berakibat terbentuknya dua negara
berdaulat, yaitu RRC dan Taiwan.
Pembentukan nasionalisme dilakukan juga
oleh kelompok di bawah pimpinan Mao Zedong, yakni dengan menggunakan ajaran
Marxisme-Leninisme yang kemudian dimodifikasi menjadi ajaran Maoisme. Meskipun
demikian ajaran Maoisme belum dapat diterima oleh seluruh bangsa Cina. Bahkan menimbulkan
pertentangan dan perpecahan bangsa yang mengakibatkan terbentuknya “Dua Cina”,
yaitu Cina Daratan (RRC) dan Cina Kepulauan (Taiwan). Keduanya memiliki dasar
ideologi politik yang berbeda, yaitu komunis dan nasionalis. Masing-masing
telah menemukan bentuk nasionalismenya, yaitu nasionalisme Cina dan
nasionalisme Taiwan. Kesadaran kebangsaan masing-masing pihak itu lahir
dilandasi oleh nasionalisme, dan ini merupakan manifestasi dari pertentangan
dan konflik kepentingan daripada sekedar hasil solidaritas di dalam atau
antarkelompok. Memang, kedua perbedaan ideologi itu pernah bersatu dalam
menentang pendudukan Jepang (1937), tetapi hanya berusia pendek dan berpecah
lagi hingga kini.
c.
NASIONALISME
KOREA
Korea merupakan negara yang
terus-menerus diperebutkan oleh Cina, Jepang dan Rusia, karena memiliki letak
yang strategis. Perebutan wilayah itu berhenti setelah Jepang berhasil
menguasai Korea (1910-1945). Ketika itu pula Kerajaan Choson dan kedaulatan
bangsa Korea berakhir. Selama 35 tahun Korea menjadi jajahan Jepang, maka
pergerakan nasional muncul untuk mengusir kekuatan imperial Jepang. Kaum
nasionalis baik yang ada di luar negeri maupun yang tinggal di dalam negeri
banyak dipengaruhi oleh anjuran Woodrow Wilson bahwa setiap bangsa berhak
“menentukan nasibnya sendiri”.
Penjajahan
Jepang itu segera mendapatkan reaksi dari rakyat Korea, seperti pembentukan
pasukan kemerdekaan, Chamuibu, Jonguibu dan Sinminbu. 11 Pergerakan nasional
meletus pada 1 Maret 1919 bertepatan dengan peringatan hari wafatnya Raja
Kojong. Ketika itu pula dibacakan teks proklamasi kemerdekaan Korea di taman
Pagoda. Tradisi negara menjadi elemen untuk menyatukan rakyat, dan karena itu
mendasari munculnya nasionalisme. Demonstrasi itu mendapat reaksi keras dari
Jepang, tetapi kaum nasionalis tidak menyurutkan gerakannya. Para aktivis di
luar negeri yang tergabung dalam Asosiasi Nasionalis Korea di Hawai dan
Asosiasi Pemuda Korea di Shanghai, melakukan upaya mencari pengaruh bagi
kemerdekaan Korea di luar negeri melalui Perjanjian Versailles. Mereka juga
membentuk pemerintahan-pemerintahan di pengasingan, sedangkan Gerakan Pemuda
Nasionalis di Korea menghimpun dana untuk kepentingan perjuangan.
Antara tahun 1926 – 1945 gerakan anti
Jepang sering kali dilakukan secara fisik oleh pemuda, petani, buruh, dan
gerakan tentara revolusioner rakyat Korea. Jepang mempraktekkan devide et
impera, karena itu kaum nasionalis mendirikan wadah organisasi yang bernama
Sinkanhoe (1927), tujuannya menyatukan kaum pergerakan tanpa membedakan
ideologi. Gerakan revolusioner yang berdasarkan ideologi komunisme dilancarkan
oleh Kim Il Sung . Kim Il Sung.
Gerakan itu dengan cepat meluas dan menjadi gerakan massa pemuda, mahasiswa,
buruh dan tani. Di bawah koordinasi pemimpin komunis itu kemudian pada tahun
1932 didirikan Partai Komunis, Liga Pemuda Komunis, organisasi-organisasi
massa, dan tentara revolusioner rakyat Korea (1934). Tiga tahun kemudian
kekuatan revolusioner ini telah berani menyerang benteng pertahanan tentara
Jepang (Bonchonbo), dan kemudian bertepatan dengan kekalahan Jepang dalam PD II
pasukan revolusioner bekerja sama dengan tentara merah Uni Soviet untuk
kemerdekaan Korea. Sementara itu tentara pemerintahan sementara Republik Korea
telah bersiap-siap melawan tentara Jepang di Semenanjung Korea menyusul pengumuman
Jepang menyerah tanpa syarat.
Bangsa Korea gagal memperoleh
kemerdekaan pada 15 Agustus 1945, karena Sekutu sebagai pemenang perang membagi
Korea menjadi dua, yakni Korea Utara di bawah kekuasaan Uni Soviet dan Korea
Selatan dikuasai Amerika Serikat. Pada tahun 1948 dua negara baru didirikan,
yaitu Republik Korea di selatan dan Republik Demokrasi Rakyat Korea di utara.
Pemerintahan di Korea Utara dibentuk berdasarkan sistem komunisme, sedangkan
Republik Korea berdasarkan demokrasi dan kapitalisme. Perbedaan ideologi ini
merupakan salah satu penyebab timbulnya Perang Korea, dan hambatan dalam upaya
reunifikasi Korea hingga saat ini. Sama halnya dengan masalah Taiwan, konflik
di Korea tidak berdasarkan perbedaan etnis atau ras tetapi masing-masing loyalitas
politik. Sehingga kedua negra tesebut membentuk nasionalismenya masing-masing
dengan didasarkan ada loyalitas politik.
D.
KESIMPULAN
Pembentukan nasionalisme mengalami
perkembangan sesuai dengan zamannya, termasuk di kawasan Asia Timur. Pada
pertengahan abad ke-20 pembentukan nasionalisme yang didasarkan pada gabungan
unsur etnisitas dan loyalitas politik masih terlihat dengan jelas di kawasan
Asia Timur. Akan tetapi menjelang akhir abad ke-20 kedua unsur itu hanya
terdapat di Jepang, sedangkan di Cina dan Korea hanya aspek loyalitas politik
yang digunakan untuk membentuk nasionalisme. Di Jepang, kedua unsur itu telah
menyatu pada diri orang Jepang, sehingga apa yang dilakukan oleh orang Jepang
yang berorientasi internasionalisme tidak melenyapkan identitas nasional.
Mereka sadar betul bahwa dirinya adalah orang Jepang. Pemerintah Jepang sangat
memperhatikan pembentukan kepribadian bangsa terutama pada generasi penerus.
Hal ini terlihat dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar hingga Sekolah
Menengah, bahwa pelajaran tentang cinta tanah air hingga kini dimasukkan di
dalam kurikulum. Sementara itu di Cina dan Korea pada masa yang sama juga
berlangsung proses pembentukan nasionalisme dengan menggunakan unsur etnisitas
dan loyalitas politik. Namun setelah terbentuknya “dua Cina” dan “dua Korea”,
maka muncul upaya untuk membentuk kembali “satu” Cina dan “satu” Korea. Dalam
rangka reunifikasi itu hingga kini masih terdapat kesulitan untuk mencari
bentuk baru nasionalisme yang dapat diterima oleh bangsa-bangsa yang
bersengketa. Kedua unsur tersebut tidak dapat digunakan sebagai landasan untuk
menyatukan bangsa Cina dengan Taiwan, dan Korea Selatan dengan Korea Utara.
Dengan demikian hingga saat ini pembentukan “nasionalisme Cina” dan
“nasionalisme Korea” belum dapat terwujud.
E.
REVIEW
a.
kelebihan
Pembahsan mengenai perbandingan nasionalisme
ditiga negara di Asia timur; Jepang,
Cina dan Korea, dipaparkan secara jelas. Pembaca dapat mengetahui mengenai
latar belakang dan faktor munculnya
serta bentuk dasar nasionalisme yang dianut
dari ketiga negara trsebut.
Latar waktu yang berorientasi kemasa
lampau dan tidak maju mundur membuat jurnal ini konsisten dalam pembahasan terbentuknya
nasionalisme, sehingga memudahkan pembaca dalam memahami inti sejarah
pembentukan serta pembahasan utama mengenai
nasionalisme di tiga negara tersebut.
b.
Kekurangan
1. Masih
banyaknya penggunaan istilah bahasa asing yang sulit untuk dipahami oleh pembaca
awam.
2. pembahasan menganai terbetuk nasionalisme cina lebih banyak pada faktor perbedaan paham antara komunisme dan sosialisme dan pasca imperialis barat. nasionalisme cina sudah muncul pada masa pemerintahan dinasti Manchu 1644 dan mencapai puncaknya setelah jatuhnya dinasti Manchu pada tahun 1911 M. Dinasti manchu merupakan pemerintah asing bukan merupakan bangsa asli Cina, yang memerintah cina dengan sewenang-wenang. melihat penyelewengan tersebut rakyat cina asli bergerak untuk melakukan perlawanan dan membebaskan diri dari dinasti asing tersebut (Agung.S, 2012;73)
terimaksih sudah membaca sliahkan berikan masukan di kolom komentar yaaaa :v
........
Oh ya untuk baca jurnalnya bisa klik di sini yaa :v
terimaksih sudah membaca sliahkan berikan masukan di kolom komentar yaaaa :v
........
Oh ya untuk baca jurnalnya bisa klik di sini yaa :v

19 Komentar
Mengapa Cina dan Korea hanya aspek loyalitas politik yang digunakan untuk membentuk nasionalisme?
BalasHapusBanyak tanya ya anda....
HapusKita lihat dari latar belakang terbentuknya nasionalisme di ledua negara tersebut.
Korea yang awalnya satu terpisah menajdi dua bagian utara dan selatan akibat dua kepentingan politik yang beda. Utara yang memganut paham komunis, dan demorkarsi lebaralis kapitalis di selatan. Terbagi dua negara ini diikuti dengan terbwanya dua paham yang berbeda sehingga. Para rakyat yang loyal terhadap komunis akan membentuk nasionalismenya sendiri begitupuna bagia selatan yang pro dengan paham demokrasi kapitalisnya. Cina demikian, pemisahan antara cina daratan (RRC) dan cina kepulauan(taiwan) terpisah akibat beda paham yang berbeda. RRC pro komunis dan taiwan kontra.
Hal yang terpenting adalah ..kedua nengara terseubut pernah dijajah oleh negara2 brat dan asia. Cina oleh inggris dan korea oleh jepang sehingga kemunculan sifat nasionlaisme atau cinta tanah air muncul akibat rasa terdintas dari masa2 penjajahan tersebut tang nantinya akan mengarah kepada kepentingan politik seiring zaman. Berbda dengan jepang, jepang negara yang tak permah di jajah meski pihak amerila perna menduduki jepang tali tidak dapat menguasainya. Munculnya nasionalis jepang jauh sebelm masa2 perang. Nasinalis jepang muncul oleh keterikatan etnisitas yang telah tumbuh sejak dulu sebagai suatu kebangaan sebagai orang jepang yang nantinya mencapai puncaknya semasa PD- II yang membuat orang jepang semangit mencintai tanah airnya sehinga yang nanti nasionalis berupah menjadi ultranasionalis yang lebih ke araj extrimis.
Mengapa orang Hongkong, Taiwan, dan Macau menyebut China sebagai Mainland/tanah daratan, dan seolah-olah mereka tidak mau disamakan dengan orang China padahal mereka adalah satu etnis?
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapussebenarnya kalo mbaknya mau baca lebih teliti lagi bacanya di atas sudah ada jawabnnya. saya jawab singkat saja.
Hapusterbaginya dua cina antara cina kepulauan dan cina daratan adalah akibat perbedaan paham antara sosialisme yang dianut oleh cina kepulauan yang sekarang disebut taiwan dan komunisme yang dianut oleh cina daratan yang sekarang disebut RRC. faktor inilah yang membuat orang taiwan tidak mau disamakan dengan RRC. CMIIW
Dapat dikatakan bahwa penjajahan Barat di Cina adalah semi kolonial karena tidak semua wilayah bagian dari Cina tersebut dijajah. Ketika saat itu Cina memilih anti terhadap Barat, apakah juga tumbuh nasionalisme yang sama pada wilayah-wilayah yang tidak merasakan penjajahan Barat tersebut? Mohon dijelaskan.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapusberat sekali pertanyaanya ya....
Hapusbaik.. sebenarnya nasionalisme cina sudah ada sejak masa masa dinasti manchu 1644 sebelumm kedatangan bangsa barat. yang nanti mencapai pada puncaknya pada tahun 1911 dengan runtuhnya pemerintahan dinasti Manchu. yang perlu di ketahui disini dinasti manchu adalah pemerinahan menggunakan sistem feodal yang memperbudak rakyat china Drs. Leo Agung. S M.Pd. dalam bukunya Sejarah Asia timur jilid 2 tahun 2012; menjelaskan bahwa, dinasti Manchu adalah pemerintahan asing ,sebab bangsa Manchu bukan penduduk asli cina yang memerintah secara sewenang -wenang. bangsa Cina asli yang merasakan kesewenangan ini mulai bergerak membentuk perlawanan dan memebaskan diri dari dinasti asing tersebut. nasionalisme pra imperalis barat dan pasca imperialis barat memilki kesamaan yaitu atas dasar politik yang sama-sama ingin bebas dari pendudukan pihak asing tapi dengan faktor yang berbeda karena akhirnya cina terpisah dua bagian akibat perbedaan paham. Cina daratan dan Cina kepulauan (taiwan)
Faktor-faktor apa saja yang membuat nasionalisme di tiga negara Macan Asia tersebut berbeda-beda? Hal-hal apa saja yang mendapatkan?
BalasHapusnice questions !!
Hapusbut sorry i dont understand what u mean on second question ?? get what ?? make it clear please.....
ill answer your first queston only.
ada perbedaan faktor terbentuknya nasionalisme di tiap-tiap negara tersbut.
nasionalisme korea terbentuk akibat faktor dijajah oelh negara-negara asing sperti Jepang, Amereka, dan Rusia. sehingga munculnya rasa untuk melawan dan membela tanah air atau yang disebut nasionalisme untuk terbebas dari penjajahan.
Cina demikian faktorya akibat bangsa cina sering ditindas oleh bangsa asing yang bermual dari masa pemerinahan dinasti Manchu dan berlanjut hingga masuknya bangsa barat.
Jepang memiliki perbedaan dari kedua negara tersebut. jepang negara yang tidak pernah dijajah faktor nasionalisme jepang telah ada dari awal diamana masyakat jepang sangat memegang teguh kebudyaan dan sangat mengagungkan Kaisar jepang yang di anggap sebagai dewa matahari sehingga kecintaan jepang terhdap negara semakin tinggi dengan di dasari dengan melakukan pengembangan kwkuasaan wilayah ke ngara2 lain yang membut jepang menjadi negara dengan penganut Ultranasionalis dalam mencintai tanah air.
okay im sorry if any mistake.. for more questions just send me WA okay..i'll try hard to answer yours
Ik probeerde te begrijpen wat hij bedoelde
HapusDisitu dijelaskan bahwa ideologi Cina dan Taiwan pernah bersatu sebelum akhirnya pecah hingga masa kini. Jelaskan apa yang menyebabkan ideologi itu terpecah ?
BalasHapusSelain faktor loyalitas politik, apakah ada faktor lain yang membentuk nasionalisme di china dan korea?
BalasHapusSetelah terbentuknya “dua Cina” dan “dua Korea”, maka muncul upaya untuk membentuk kembali “satu” Cina dan “satu” Korea. Maksud dari pernyataan tersebut itu apa?
BalasHapusKeshogunan Tokugawa adalah dinasti penguasa terlama dalam pemerintahan di Jepang. Namun, dalam pemerintahan yang lama ini pemerintahan Tokugawa menutup diri dari perkembangan dari luar wilayah Jepang. Hal ini menjadikan Jepang terpuruk dan mengalami masa yang kelam. Restorasi Meiji menurut saya memang sudah harus diterapkan walaupun banyak juga yang menentang restorasi ini.
BalasHapusPada akhirnya memang restorasi ini berhasil membawa Jepang kepada masa keemasannya dan membawa Jepang menjadi negara yang maju. Memang seharusnya sebuah negara harus mau melihat perkembangan dari luar agar bisa mengukur sejauh mana perkembangan negaranya tersebut.
terimakasih atas artikelnya.
Di zaman yang modern, dimana ideologi berkembang dengan pesat, apa yang menyebabkan warga Jepang tidak melakukan perubahan ideologi?
BalasHapusApa yang menyebabkan Jepang tidak pernah dijajah oleh bangsa asing.
BalasHapusApakah untuk menjadi pelopor pergerakan nasional harus berasal dari golongan samurai yang termasuk klas atas?
BalasHapusApa yang mendasari kedua negara seperi cina dan Korea sulit menumbuhkan rasa nasionalisme sehingga ada perpecahan?
BalasHapus