oke teman-teman kali ini kita akan membahas tentang salah satu kerajaan islam terbesar di Indonesia, oke langsung simak aja yang udah mimin tulis dibawah yang mimin rangkum dari beberapa sumber . Semoga bermanfaat :)
Kerajaan Aceh Darussalam adalah salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia, dan memiliki kemajuan yang begitu pesat pada masanya. karena letaknya yang sangat strategis terletak di daerah Sumatera Utara dekat dengan pusat perdangan internasional maka kerajan Aceh mengalami perkembangan yang begitu pesat baik dibidang politik, ekonomi, dan sosial. Pada kepemimpinan Sultan Ibrahim sebagai raja pertama, kerajaan Aceh terus melaju kearah sukses yag semakin gemilang begitu juga pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda yang dikenal dengan masa kejayan Kerajaan Aceh. Akan tetapi kerajaan Aceh sering kali mengalami pasang surut dalam kekuasaannya akibat beberapa permasalahn yang terjadi, baik dari dalam kerajan maupun dari luar kerajaan. Pergantian kepemimpinan yang memiliki kebijakan yang berbeda-beda dari pendahulunya, dan masuknya kolonialisme ke bumi nusantara membuat kerjaan Aceh sedikit demi sedikit mengalami kemunduran.
Sejarah Perkembangan.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menjadi titik awal berdirinya kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 12 dzulqa’dah 916 H/ 1511 M. Pada awal mulanya kerjaan Aceh merupakan kerajaan bekas taklukan kerajaan Piedi, berkat jasa Sultan Mughiyat Syah akhirnya mampu melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Piedi dan menjadi kerajaan yang berdaulat. Kerajaan Aceh Darussalam bertahan selama 407 hingga akhirnya jatuh akibat beberapa permasalahan yang terjadi. Sultan Mughiyat Syah atau juga terkenal dengan sebutan Sultan Ibrahim menjadi penguasa pertama (1514-1528). sekaligus pendiri kerajaan Aceh Darussalam. Berkat jasanya yang mapu melepaskan kerajaan Aceh dari kerajaan piedi menjadikan ia naik tahta sebagai raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Aceh. Pada masa kepemimpinannya kerajaan Aceh melaju pesat menuju kesuksesan. Sultan Ibrahim sendiri memiliki cita-cita yang begitu kuat ingin menaklukan kerajaan-kerajaan yang berada di Semenanjung Malaka diantaranya Pahang, Kedah, Perlak, Johor dan masih banyak lagi. Ekspansi pada masanya terus dilakukan guna memperluas daerah kekuasaan. Sultan Alauddin Ri’ayat sebagai penurus tahta kerajaan Aceh setalah meninggalnya Sultan Ibrahim. Sama halnya dengan pendahulunya, pada masa ini kerajaan aceh terus melakukan perluasan wilayah kekuasaan. Sultan Alauddin Ri’yat ingin memperluas daerah kekuasaannya ke barus, sehingga di utuslah suami dari saudara perempuannya ke barus yang kemudian diangkat menjadi Sultan Barus. Setelah meninggalnya Sultan Alauddin Ri’yat , kepemimpinan kerajaan diteruskan oleh putranya yang bernama husein. Diangkatnya Husein sebagai penerus tahta kerajaan menimbulkan kecemburuan dan rasa tidak suka dari saudara-saudaranya, yang sebelumnya telah di angkat menjadi sultan di Aru dan Pariaman. Sikap yang sama juga ditunjukan oleh sultan yang berkedudukan di barus. Akibatnya terjadilah perlawanan dari ketiga sultan tersebut terhadap Sultan Husein. Yang akhirnya dalam pertempuran tersebut Sultan Husein gugur demikian pula Sultan Aru. Sehingga yang tinggal hanya Sultan Paraiman. Semenjak meninggalnya Sultan Alauddin, Kerajaan Aceh mengalami Goncangan pemerintahan akibat perebutan kekuasaan dari dalam kerajaan itu sendiri. Akibatnya, banyak daerah yang tadinya berada dibawah pengaruh kerajaan Aceh mulai melepaskan diri satu persatu. Baru setelah Sultan Iskandar Muda tampil sebagai penguasa Aceh keadaan bisa pulih seperti sedia kala, bahka lebih memperluas lagi daerah taklukanya.
masa kejayaan.
Setelah mengalami beberapa kali pasang surut dalam pemerintahan, akhirnya kerajaan Aceh kembali menjadi Kerajaan yang berjaya dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda mampu membawa kerajaan Aceh ke puncak yang sangat gemiilang. Masa ini dikenal dengan masa keemasan kerajan Aceh. Daerah-daerah yang melepaskan diri dari pengaruh Aceh akibat pertikaian perebutan kekuasaan antar pewaris tahta dapat di satukan kembali oleh Sultan Iskandar Muda. Kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1638) yang memerintah hampir 30 tahun lamanya, berhasil menekan arus perdagangan yang di jalankan oleh orang Eropa. Sultan Iskandar Muda mempersulit dan memperketat perijinan bagi pedagang asing yang ingin melakukan kontak dengan Aceh. Hal demikian bertujuan untuk memembendung pengaruh bangsa asing di Aceh. Demi memakmurkan kehidupan prekonomian negeri, Sultan Iskandar Muda membuka Bandar aceh menjadi pelabuhan Internsional. Degan dibukanya Bandar Aceh membuat segala hasil kekayan Aceh mudah memperoleh pasaran walaupun pada akhirnya menjadi bumerang bagi Aceh itu Sendiri . Disisi lain kemajuan yang sangat menonjol dibandingkan dengan pedahulu-pendahulunya yaitu kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan keagamaan. Hal tersebut tampak pada masa itu telah ada lembaga-lembaga kajian ilmiah dan pusat studi islam. Lembaga-lembaga kajian tersebut terdiri atas :
1. Balai Sertia Ulama’(jawatan pendidikan)
2. Balai jama’ah Himpunan Ulama’ yang merupakan studi club yang beranggotakan para ahli agama. 3. Balai Sertia Hukama’ ( Lembaga Pengemangan Ilmu Pengetahuan) Adapun lembaga pendidikan yang terdapat disana, meliputi :
1. Meunasah (Ibtidaiyah)
2. Kangkang (Tsanawiyah)
3. Daya (Aliyah) Daya Teuku Cik (perguruan Tinggi). Dapat dibayangkan betapa gemilangnya aceh di masa keemasan yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Ini menjadi suatu bukti bahwasanya suatu usaha yang apabila diupayakan dengan penuh perhatian dan keseriusan akan membuahkan hasil yang sangat menyilaukan. Maka wajar bila Aceh saat itu menjadi batu sandungan bagi imperum Barat yang berusaha menguasai wilayah Nusantara. Sungguh disayangkan, di akhir masa jabatannya, ketetapan sistem yang pernah ia berlakukan terhadap pedagang-pedagang asing menjadi longgar karena kekalahan yang dideritanya ketika melakukan penyerangan ke malaka pada tahun 1629 akibatnya ia menjalin hubungan dengan Belanda sebagai mitra kerja unutuk menghadapi Prtugis. Kemunduran kerajaan Aceh juga telah tampak saat pergantian kepemimpinan kerajaan Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke raja berikutnya.
masa kejayaan.
Setelah mengalami beberapa kali pasang surut dalam pemerintahan, akhirnya kerajaan Aceh kembali menjadi Kerajaan yang berjaya dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda mampu membawa kerajaan Aceh ke puncak yang sangat gemiilang. Masa ini dikenal dengan masa keemasan kerajan Aceh. Daerah-daerah yang melepaskan diri dari pengaruh Aceh akibat pertikaian perebutan kekuasaan antar pewaris tahta dapat di satukan kembali oleh Sultan Iskandar Muda. Kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1638) yang memerintah hampir 30 tahun lamanya, berhasil menekan arus perdagangan yang di jalankan oleh orang Eropa. Sultan Iskandar Muda mempersulit dan memperketat perijinan bagi pedagang asing yang ingin melakukan kontak dengan Aceh. Hal demikian bertujuan untuk memembendung pengaruh bangsa asing di Aceh. Demi memakmurkan kehidupan prekonomian negeri, Sultan Iskandar Muda membuka Bandar aceh menjadi pelabuhan Internsional. Degan dibukanya Bandar Aceh membuat segala hasil kekayan Aceh mudah memperoleh pasaran walaupun pada akhirnya menjadi bumerang bagi Aceh itu Sendiri . Disisi lain kemajuan yang sangat menonjol dibandingkan dengan pedahulu-pendahulunya yaitu kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan keagamaan. Hal tersebut tampak pada masa itu telah ada lembaga-lembaga kajian ilmiah dan pusat studi islam. Lembaga-lembaga kajian tersebut terdiri atas :
1. Balai Sertia Ulama’(jawatan pendidikan)
2. Balai jama’ah Himpunan Ulama’ yang merupakan studi club yang beranggotakan para ahli agama. 3. Balai Sertia Hukama’ ( Lembaga Pengemangan Ilmu Pengetahuan) Adapun lembaga pendidikan yang terdapat disana, meliputi :
1. Meunasah (Ibtidaiyah)
2. Kangkang (Tsanawiyah)
3. Daya (Aliyah) Daya Teuku Cik (perguruan Tinggi). Dapat dibayangkan betapa gemilangnya aceh di masa keemasan yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Ini menjadi suatu bukti bahwasanya suatu usaha yang apabila diupayakan dengan penuh perhatian dan keseriusan akan membuahkan hasil yang sangat menyilaukan. Maka wajar bila Aceh saat itu menjadi batu sandungan bagi imperum Barat yang berusaha menguasai wilayah Nusantara. Sungguh disayangkan, di akhir masa jabatannya, ketetapan sistem yang pernah ia berlakukan terhadap pedagang-pedagang asing menjadi longgar karena kekalahan yang dideritanya ketika melakukan penyerangan ke malaka pada tahun 1629 akibatnya ia menjalin hubungan dengan Belanda sebagai mitra kerja unutuk menghadapi Prtugis. Kemunduran kerajaan Aceh juga telah tampak saat pergantian kepemimpinan kerajaan Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke raja berikutnya.
Sistem Politik. Sistem politik di kerajaan Aceh Darussalam dapat diklasifikasikan menjadi dua periode. Untuk periode awal, sebelum Sultan Iskandar Muda perpolitikan di kerajaan Aceh Darussalam belum tertata rapi. Pada masa itu lebih menitik fokuskan di bidang militer untuk memperkuat pertahanan kerajaan dari berbagai ancaman, karena pada masa itu kerajaan Aceh baru saja terlepas dari pengaruh Kerajaan Peidi. Sehingga pembenahan di sektor pertahanan dirasa sangata perlu oleh kesultanan yang memimpin pada masa itu. Berbeda dengan Sultan Iskandar Muda yang dimana segala sistem perpolitikan tertata dengan rapi. Ada dua sistem yang di tempuh oleh Sultan Iskandar Muda pada saat itu : internal (yang menyangkut kepentingan dalam negeri) eksternal (yang berhubungan dengan negeri asing). Berkaitan dengan sistem internal, pada saat itu struktur pemerintahan tertata dengan rapi yang menghubungkan antara daerah-daerah dengan kerajaan pusat. Sedangkan sistem yang bersifat eksternal yang berkaitan dengan orang – orang asing Sultan Iskandar Muda memperketat perijinan terhadap orang-orang asing yang ingin melakukan kontak dengan Bangsa Aceh. 4.1 Kemunduran Kerajaan Aceh Kemunduran kerajaan Aceh sebenarnya telah tampak setelah meninggalnya Sultan Iskandar Muda pada tahun 1636 dan digantikan oleh Sultan iskandar Tsani yang memerintah kurang lebih 5 tahun sejak 1636-1641. Berbeda dengan pendahulunya yang begitu ketat dengan pedagang- pedagang asing, Sultan Iskandar Tsani memiliki skap lunank dan kompromistis terhadap bangsa asing. Adanya campur tangan bangsa asing dalam pemerintahan membuat kemunduran kerajaan Aceh makin terasa. Apa lagi setelah bergantinya kepemimpinan ke tangan seorang wanita Sultanah Tajul Syafituddin Syah 1641-1675 istri dari Sultan Iskandar Tsani. Pemerintahan Aceh yang semula kokoh mulai goyah, yang semula ketat mulai menjadi longgar. Daerah-daerah yng dulu menjadi kekuasaan Aceh tidak lagi dikuasai karena lemahnya kekuatan kerajaan pada masa itu. Banyaknya daerah yang melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Aceh membuat kerajaan Aceh tak lagi berwibawa, ditambah masalah ekonomi yang tidak setabil akibat pedagang-pedagang asing yang mulai terasa kekuasaanya dan permainan politik adu dombanya. Membuat aceh di ambang kehancuran. Kebijakan menjalin hubungan dengan belanda terpaksa dilakukan oleh Sultanah. Dengan niatan semata-mata untuk mempertahankan Aceh. Namun sayang nafsu menguasai belanda tampak begitu jelas, dasar niat untuk memonopoli sudah bersarang di hati belanda semenjak merekea menginjakkan kaki di bumi Nusantara. Keputusan yang diambil Sultanah justru dijadikan momentum oleh Belanda untuk menancapkan iperialismenya semakin dalam. Dibuktikan dengan beberapa fasilitas dan kesempatan yang diberikan kepada Belanda, yang akhirnya mendirikan kantor dagang di padang dan salida meski mendapat peringatan dari sultanah, namun tak dihiraukan.
Faktor Penyebab
Ada dua faktor penting penyebab kemunduran kerajaan Aceh Darussalam: masing-masing faktor intern dan faktor ekstern.
Faktor Intern:
1. yang pertama diakibatkan lemahnya sultan-sultan penerus kerajan Aceh Darussalam dalam mengendalikan jalanya pemerintahan, dan tidak diterapkannya kebijakan-kebijakan sultan yang terdahulu dalam menjalankan pemerintahan.
2. Banyaknya daerah- daerah dibawah pegaruh aceh yang memisahkan diri dan berusaha untuk berdaulat sendiri, sehingga lebih memudahkan phak luar memecah belah persatuan.
Faktor Ekstern:
1. Adanya campur tangan orang-orang asing dalam pemerintahan baik secara langsung atau tidak langsung.
2. Perijinan Perdagangan yang mulai longgar sehingga memudahkan bangsa asing. memonopoli sektor ekonomi.
3. Kalahnya kerajaan Aceh terhadap Portugis di Malaka.
Faktor Penyebab
Ada dua faktor penting penyebab kemunduran kerajaan Aceh Darussalam: masing-masing faktor intern dan faktor ekstern.
Faktor Intern:
1. yang pertama diakibatkan lemahnya sultan-sultan penerus kerajan Aceh Darussalam dalam mengendalikan jalanya pemerintahan, dan tidak diterapkannya kebijakan-kebijakan sultan yang terdahulu dalam menjalankan pemerintahan.
2. Banyaknya daerah- daerah dibawah pegaruh aceh yang memisahkan diri dan berusaha untuk berdaulat sendiri, sehingga lebih memudahkan phak luar memecah belah persatuan.
Faktor Ekstern:
1. Adanya campur tangan orang-orang asing dalam pemerintahan baik secara langsung atau tidak langsung.
2. Perijinan Perdagangan yang mulai longgar sehingga memudahkan bangsa asing. memonopoli sektor ekonomi.
3. Kalahnya kerajaan Aceh terhadap Portugis di Malaka.
Kesimpulan Perjalanan kerajaan Aceh Darussalam sebagai salah satu kerajaan islam terbesar di Indonesia tentunya tidak berjalan mulus dalam pemerintahannya. Kerajaan bekas taklukan kerjaan peidi ini Beberapa kali mengalami pasang surut dalam mengembangkan kekuasaannya, pada awal masa kerjaan dibawah pimpinan Sultan Ibrahim berhasil melaju pesat dalam memperluas kekuasaan. Meski demikian kerajaan ini pernah mengalmi surut dalam pemerintahan pada pertengahan kekuasaan akibat perebutan tahta kekuasaan oleh para elite kerajaan yang mebuat kerajan ini di ambang kemunduran. Hingga tampilnya Sultan Iskandar Muda dapat membalikan kedaan membawa kerajaan kepuncak kejayaan yang amat gemilang dibandingkan dengan pendahulunya pada masa itu, meski pada akhirnya mengalami kemunduran juga pada akhir masa jabatannya.
DIKUTIP DARI
DIKUTIP DARI
Harun,Yahya M.1995.
kerajaan islam Nusantara aba XVI dan XVII. Yogyakarta: Pt. Kurnia Kalam
Sejahtera.
Gustam. Faisal
Ardi.2017.Buku Babon Kerajan-kerajaan
Nusantara. Yogyakarta:Brilliant Book.https://m.kumparan.com/potongannostalgia/kesultanan-aceh-darussalam-penguasa-baru-pesisir-sumatera.[Diakses
pada 21 Oktober 2018]
Risky Dani.2015.Penyebab Runtuhnya Kerajaan Aceh. https://brainly.co.id/tugas/4625692. [Diakses pada 21 Oktober 2018]

0 Komentar